SYUKUR

Bersyukurlah, itu satu nasehat pendek dari ibu yang selalu saya ingat. Nasehat itu pula yang selalu membuat saya berpikir ulang sebelum mencela nasib saya sendiri. Saya tahu, adalah manusiawi sekali ketika saya berharap mendapatkan lebih dari apa yang saya miliki saat ini, tapi nasehat itu selalu menyadarkan saya, bahwa mensyukuri yang saya miliki sekarang adalah jauh lebih baik bagi saya dan lebih menenangkan.
Kadang saya pun merasa ingin memiliki kehidupan yang indah seperti orang lain, tapi kemudian Allah menunjukkan bahwa yang terlihat indah itu belum tentu indah dalam arti sebenarnya. Ketika seseorang yang terlihat begitu kaya ternyata memiliki utang ratusan juta, saya pun sadar bahwa nyatanya saya lebih beruntung karena saya tak perlu bersusah payah memikirkan utang yang harus dibayar. Pun ketika saya merasa omset kue menurun, Allah menyadarkan saya bahwa ada orang lain yang lebih susah, karena sehari saja harus membayar cicilan 300 ribu, sedngkan saya tak memiliki beban cicilan.
Pun ketika Allah membiarkan saya tahu bahwa ada orang yang merasa begitu cukup dengan memiliki beras 2 liter, sehingga tak mau kerja sebelum berasnya habis. Saya terpekur, membandingkan diri saya yang selalu riweuh bila karung beras tinggal terisi 2 liter, padahal Allah telah siapkan pula gabah yang bisa saya bawa ke penggilingan saat beras habis.
Saya pun sedang berusaha untuk mengurangi intensitas mengeluh, dan menambah intensitas bersyukur dengan terus mengingat semua kebaikan Allah pada saya. Hmm, jadi teringat sama nasehat Ustadz Iyus dulu waktu saya SMP: Anakku, hati-hati kau langkah, lihat ke bawah, jangan lihat ke atas...