PESANTREN SALAF, DULU DAN SEKARANG...

Tinggal kembali di Banten ini membuat banyak kenangan masa kecil dulu kembali menyeruak, salah satunya tentang pesantren salaf. Dilahirkan di rumah yang juga jadi tempat para santri menimba ilmu agama, membuat saya akrab dengan suasana pesantren. Almarhum Bapak dulu memiliki banyak santri sebelum akhirnya beliau sibuk dengan tugasnya sebagai kepala KUA dan memberikan estafet pesantren pada Paman.
Santri Bapak kebanyakan anak sekolah Tsanawiyah dan Aliyah yang datang dari kampung yang jauh dari sekolah, sehingga untuk menghemat waktu mereka sambil nyantri di tempat Bapak. Saya pun masih ingat, sewaktu kecil hampir selalu tidur dengan salah satu santri, namanya Teh Bai Asni. Santri putri tinggal di rumah kami, sementara santri putra tinggal di asrama sebelah rumah, yang kini kami rehab dan beralih jadi PAUD.
Dulu pesantren-pesantren salaf banyak bertebaran, dengan banyak santri dan kobong-kobong alias asrama santri yang dibangun. Sekarang saya melihat zaman sudah berubah. Banyak pesantren-pesantren salaf yang tinggal nama, kalah bersaing dengan pesantren modern , hingga banyak asrama-asrama yang kosong dan lapuk dimakan usia.
Selain hadirnya pesantren modern yang jauh lebih komplit dalam hal pendidikan,  banyaknya sekolah yang dibangun juga turut mempengaruhi  penurunan santri, karena dahulu salahsatu alasan nyantri adalah agar dekat bersekolah. Sekarang sekolah dimana-mana, juga akses kendaraan yang lebih mudah, sehingga yang jaraknya jauh pun lebih suka pulang ke rumah.
Pesantren salaf sekarang seperti hanya menjadi alternative terakhir, daripada tidak bersekolah mendingan nyantri, begitu yang saya tangkap. Sang santri pun setelah lulus banyak yang bingung ketika kembali ke masyarakat, karena hanya dibekali ilmu agama. Seolah pilihannya hanya satu, yaitu membuat pesantren sendiri dan jadi Kyai. Padahal belum tentu semua santri yang lulus bisa seperti itu.
Karenanya  saya jadi teringat pada pesantren agribisnis yang sempat saya lihat di televisi. Disana tak hanya diajarkan ilmu agama, tapi juga keterampilan bercocok-tanam dan beternak. Sehingga tak hanya ilmu agama yang didapat, tapi juga ilmu dunianya. Kemudian ketika santri kembali ke masyarakat, ia dapat menggunakan ilmu bercocok-tanam dan beternaknya sebagai jalan pembuka rezeki disamping tetap berdakwah dengan ilmu agama yang didapatnya.
Saya ingin sekali pesantren-pesantren salaf yang masih ada bisa seperti pesantren agribisnis ini. Dimana santri diajarkan keterampilan lain yang dapat membuatnya lebih eksis di masyarakat. Beberapa waktu lalu Teteh saya pernah bersafari ke beberapa pesantren salaf untuk mengajarkan cara membuat kue sederhana yang dapat dijual, tetapi akhir-akhir ini karena sibuk dengan kegiatan PAUD bersama saya, Teteh pun belum sempat lagi melanjutkan safarinya.
Saya sendiri ingin sekali bisa melakukan hal seperti itu. Berkunjung ke pesantren-pesantren salaf dan berbagi ilmu membuat kue atau kerajinan tangan yang saya kuasai. Namun sepertinya saat ini saya masih harus mencari waktu luang dan dana lebih untuk bisa mewujudkan harapan itu. Tapi saya yakin, insya Allah, selalu ada jalan ketika kita berniat baik.