Ikhlas, memang lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Apalagi di zaman yang serba materialistis seperti sekarang ini, ikhlas dan ketulusan seperti barang langka yang sulit ditemui. Mencari seseorang tulus berteman, sama sulitnya seperti mencari seseorang yang tulus mencintai.. Hmmm, rada-rada berat kali ini saya mikirnya...
Buat saya, seorang sahabat selalu mendapat tempat istimewa di hati saya, sama seperti anggota keluarga saya. Saat sahabat saya dalam susah, semampu saya akan membantunya. Namun jika saya yang sedang memerlukan bantuan, sungguh begitu berat bagi saya untuk mengutarakannya. Saya selalu merasa khawatir, khawatir sahabat saya terganggu, atau merasa dimanfaatkan oleh saya. Karenanya sebisa mungkin saya tangani, kecuali jika diluar kemampuan saya. Kalaupun terpaksa meminta tolong, selalu saya awali dengan minta maaf,
Meminta pertolongan sahabat juga sebenarnya dilema buat saya. Di sisi lain saya khawatir mengganggunya atau dia merasa saya memanfaatkannya, walau pun sungguh saya pun akan membayar bantuannya itu seperti halnya orang lain, dan walau itu pun sering ditolak. Di sisi yang lain bila meminta tolong pada orang lain terlebih dahulu, saya khawatir sahabat saya merasa tak dianggap karena saya lebih mendahulukan meminta bantuan orang lain dengan kemampuan yang sama dengan sahabat saya... Ribet, yaa..
Begitulah saya yang selalu merasa serba salah, huft...
Lalu ketika sang sahabat menceritakan unek-uneknya tentang teman yang tidak tulus dan hanya memanfaatkannya, koq saya mendadak sedih, ya?
pasalnya beberapa waktu lalu saya minta tolong dia, itu pun karena saudara yang minta, saya sendiri takut mengganggunya. Dan seperti yang saya duga, dia tak bisa membantu karena sibuk.
Dan ketika saya membaca unek-uneknya, mendadak saya merasa sedih dan menangis, saya merasa saya lah yang dianggapnya memanfaatkannya, astaghfirullah.. saya su'udzhon, ya...
Padahal mungkin beliau menulis itu untuk orang lain, tapi jujur saya jadi tak enak hati. ingin rasanya saya bertemu langsung, dan meminta maaf jika saya telah membuatnya susah, jika saya telah mengganggunya.
Sampai-sampai saya berdo'a, Ya Allah, beri saya jalan agar dia tahu saya tulus kepadanya...
Tapi setelah beberapa saat saya terisak, saya tersadar, tulus dan ikhlas itu cukup Allah yang tahu, dan tak akan pernah tertukar yang asli dan yang kw, semirip apapun yang kw itu, lhooo,?? wkwkwk.. Nyoba tertawa sedikit biar hati ini tak terlalu sedih seperti tadi :)
Akhirnya, ya sudahlah, cukup Allah yang mengerti, yang lainnya saya tak peduli....
Buat saya, seorang sahabat selalu mendapat tempat istimewa di hati saya, sama seperti anggota keluarga saya. Saat sahabat saya dalam susah, semampu saya akan membantunya. Namun jika saya yang sedang memerlukan bantuan, sungguh begitu berat bagi saya untuk mengutarakannya. Saya selalu merasa khawatir, khawatir sahabat saya terganggu, atau merasa dimanfaatkan oleh saya. Karenanya sebisa mungkin saya tangani, kecuali jika diluar kemampuan saya. Kalaupun terpaksa meminta tolong, selalu saya awali dengan minta maaf,
Meminta pertolongan sahabat juga sebenarnya dilema buat saya. Di sisi lain saya khawatir mengganggunya atau dia merasa saya memanfaatkannya, walau pun sungguh saya pun akan membayar bantuannya itu seperti halnya orang lain, dan walau itu pun sering ditolak. Di sisi yang lain bila meminta tolong pada orang lain terlebih dahulu, saya khawatir sahabat saya merasa tak dianggap karena saya lebih mendahulukan meminta bantuan orang lain dengan kemampuan yang sama dengan sahabat saya... Ribet, yaa..
Begitulah saya yang selalu merasa serba salah, huft...
Lalu ketika sang sahabat menceritakan unek-uneknya tentang teman yang tidak tulus dan hanya memanfaatkannya, koq saya mendadak sedih, ya?
pasalnya beberapa waktu lalu saya minta tolong dia, itu pun karena saudara yang minta, saya sendiri takut mengganggunya. Dan seperti yang saya duga, dia tak bisa membantu karena sibuk.
Dan ketika saya membaca unek-uneknya, mendadak saya merasa sedih dan menangis, saya merasa saya lah yang dianggapnya memanfaatkannya, astaghfirullah.. saya su'udzhon, ya...
Padahal mungkin beliau menulis itu untuk orang lain, tapi jujur saya jadi tak enak hati. ingin rasanya saya bertemu langsung, dan meminta maaf jika saya telah membuatnya susah, jika saya telah mengganggunya.
Sampai-sampai saya berdo'a, Ya Allah, beri saya jalan agar dia tahu saya tulus kepadanya...
Tapi setelah beberapa saat saya terisak, saya tersadar, tulus dan ikhlas itu cukup Allah yang tahu, dan tak akan pernah tertukar yang asli dan yang kw, semirip apapun yang kw itu, lhooo,?? wkwkwk.. Nyoba tertawa sedikit biar hati ini tak terlalu sedih seperti tadi :)
Akhirnya, ya sudahlah, cukup Allah yang mengerti, yang lainnya saya tak peduli....